Ade Armando dipolisikan Masyarakat Adat Minang

Badan koordinasi kerapatan adat Nagari (Bakor KAN) akhirnya melaporkan dosen Ade Armando kepada Polda Sumatera Barat pada hari Selasa (9/6), tentang komentarnya dalam Facebook soal aplikasi Alkitab berbahasa Minang yang akhir-akhir ini ramai diperbincangkan di sosial media. 

Ade Armando dipolisikan

Bekor KAN Lalu melaporkan Ade dengan dugaan melanggar pasal 28 ayat 2 Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik juncto Pasal 14 Ayat 2 dan Pasal 15 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 soal Peraturan Hukum Pidana. Menurut laporan yang dilansir dari si anak di Indonesia kemarin, ada puluhan anggota Bakor KAN yang mendatangi mapolda Sumbar dengan menggunakan pakaian adat Minang. Puluhan anggota tersebut pasalnya didampingi oleh puluhan anggota Mahkamah Adat Alam Minangkabau yang mana merupakan saksi pelapor dan 16 orang kuasa hukum. 

Koordinator kuasa hukum Bekor KAN, Wendra Yunaldi, pasalnya menerangkan bahwa pihaknya telah melaporkan Ade dengan tuduhan mengucapkan ujaran kebencian dan juga berita bohong Lewat status Facebook miliknya. Menurutnya status Ade tersebut menimbulkan keuangan di tengah masyarakat Minangkabau. 

Diketahui bahwa ad lintastoto sendiri menulis status Facebook pada tanggal 4 Juni 2020 sembari menautkan berita daring yang berjudul ‘Gubernur Sumbar Surati Kemenkominfo Minta Aplikasi Injil Berbahasa Minang Dihapus.’

Beginilah yang ditulis oleh Ade dalam status Facebooknya: “ Lho ini maksudnya apa? memang orang Minang nggak boleh beragama Kristen? kok Sumatera Barat jadi provinsi terbelakang seperti ini sih? dulu kayaknya banyak orang pintar dari Sumatera Barat. kok sekarang jadi lebih kadrun dari kadrun?”

Wendra menilai bahwa pernyataan ‘Memang orang Minang nggak boleh beragama Kristen’ itu yang bermasalah karena pernyataan tendensius dan juga mengandung unsur SARA karena melawan kesadaran adat istiadat budaya Minangkabau yang berfalsafah adat basandi syarak, syarat basandi kitabullah, syarat mangato, adaik mamakai. 

“Istilah adat basandi syarak dengan tegas dimaksudkan sebagai tatanan norma kehidupan adat di Minangkabau berdasarkan pada agama Islam,” ungkapnya.

Wendra: Minang dan Islam Seperti Adat dan Islam

Pihaknya pun menuduh bahwa Ade menyerang kesadaran religius dan juga kultural masyarakat Minang. Wendra juga menambahkan bahwa sejak Islam dideklarasikan sebagai satu-satunya agama yang bersanding dengan adat Minang, maka adat dan juga agama Islam selalu menguatkan dan tidak bisa dipisahkan. “Ketika menyebut adat Minangkabau, maka itu artinya Islam. Sebaliknya,  ketika menyebut Islam di Minangkabau, itu artinya adalah adat. Adat dan Islam seperti Dua Wajah pada satu koin yang saling berintegrasi dalam satu kesatuan yang utuh,” imbuhnya menuturkan. 

Wendra juga mengatakan bahwa dengan melekatnya sifat adat dan juga Islam dalam satu nafas Minang, maka orang Minang yang mana pindah agama dengan sendirinya keluar dari budaya minang. 

Kemudian Kepala Bidang humas Polda Sumbar Komplek Stefanus Satake Bayu Setianto pun mengatakan bahwa pihaknya sudah menerima dan bahkan mempelajari laporan tersebut. Pihaknya juga bakal memanggil saksi ahli bahasa dan juga ahli informasi dan juga transaksi elektronik guna melihat ada atau tidaknya unsur pidana dalam status Facebook milik Ade tersebut. Menurut surat terima dari polisi laporan dari pelapor tersebut diterima Ditreskrimsus Polda Sumbar pada hari Selasa, tepatnya 9 Juni 2020 pada pukul 16.00 WIB. Sementara itu dari pihak Ade Armando pada saat dimintai tanggapan atas pelaporan di Polda Sumbar itu mengaku tidak mempersoalkannya karena ia menganggap tidak ada kesalahan yang dilakukannya merujuk pada postingan di Facebook tentang Injil berbahasa Minang tersebut. Menurutnya, postingan yang dicuitkannya di akun Facebook pribadinya tersebut bukan lah sesuatu yang jahat.