IHSG diramalkan Makin Tertekan Karena Perang Dagang AS-Cina

Perang Dagang Cina dan Amerika Serikat yang semakin memanas diperkirakan akan membuat IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) kembali tertekan pada perdagangan hari Kamis (5/4) ini. Reza Priyambada, Analis Binaartha Sekuritas, menyatakan bahwa IHSG belum mempunyai peluang untuk bangkit atau rebound. Adanya pemberitaan di media massa dan juga informasi bahwa Cina akan mengenakan beberapa tarif impor barang dari AS akan memberikan dampak yang negatif untuk indeks.

Analisa dari Analis

“Pelemahan yang terjadi lebih ke pada karena adanya faktor psikologis pelaku pasar togel online terpercaya yang mana ada kecenderungan panik terlalu berlebihan saat menghadapi dan menanggapi sentimen yang ada,” ujar Reza dikutip dari CNN Indonesia di mana disebutkan dalam risetnya.

Tidak heran apabila aliran dana asing yang mana keluar dari pasar modal atau capital outflow masih saja terus terjadi di pasar reguler sampai perdagangan kemarin, hari Kamis (4/4) yang besarnya Rp. 109,42 milyar. “Diharapkan pelemahan bisa lebih terbatas dan pelaku basar diharapkan tak terlalu panik dalam menanggapi sentimen yang ada,” imbuhnya.

Namun Reza tidak menampik masih terbuka adanya kemungkinan para pelaku pasar untuk melakukan aksi jual. Dia juga memperkirakan rentang support 6.118-6.124 dan resistancenya 6.184-6.198.

Di sisi yang lainnya, Yuganur Wijanarko, Analis KGI Sekuritas Indonesia menilai bahwa perilaku para pelaku pasar yang mana kian sering menjual sahamnya di Bursa Efek Indonesia atau BEI bisa menyebabkan IHSG kembali berada di dalam tren penurunan.

“Tapi para pelaku pasar dapat menggunakan kondisi itu sebagai kesempatan trading jangka pendek untuk membeli dan menjual pada kenaikan yang selanjutnya,” kata Yuganur lewat risetnya. Ia menjabarkan juga beberapa saham yang dapat dicermati oleh para pelaku pasar, misalnya PT Kalbe Farma Tbk, PT Perusahaaan Gas Negara Tbk, dan PT Bank Mandiri Tbk. Pada perdagangan kemarin, pasalnya IHSG jatuh sebesar 1,15% ke level 6.157. Maka tidak heran seluruh indeks sektoral berkahir di zona merah, terutama pertambangan yang mana turun sebesar 2,14%.

Beruntungnya, walaupun sentimen negatif datang salah satunya dari Amerika Serikat,  Namun mayoritas Indeks di Bursa Saham Wall Street pasalnya bergerak positif. Sesuai dengan catatan, Dow Jones ditutup naik sebesar 0,95%, S&P500 naik sebesar 1,16% dan Nasdaq Composite juga naik sebesar 1,45%.

Pelemahan Lanjut Sentuh 6.157

Kemarin hari Rabu (4/4), IHSG ditutup dengan turun 71,91 poin atau sebesar 1,15% ke level 6.157 sesudah bergerak di antara 6.137-6.250. Sementara itu di pasar valuta asing, nilai tukar rupiah sendiri ditutup turun 2 poin atau besarnya 0,01% di angka Rp. 13.766 per dolar AS, setelah bisa bergerak di kisaran jumlah Rp. 13.745 sampai Rp. 13.769.

RTI Infokom sendiri mencatat bahwa investor membukukan transaksi yang besarnya Rp. 6,25 Triliun dengan volume yang besarnya 8,6 milyar saham. Sementara itu, perdagangan yang ada di pasar reguler hari ini, investor asiny tercatat jual bersih atau net sell besarnya Rp. 109,42 milyar.

Sebanyak 113 saham naik, 262 saham sendiri turun, dan 106 saham tak bergerak. Sementara itu, seluruh indeks sektor melemah. Pelemahan paling besar dialami oleh sektor pertambangan yang mana turun sebesar 2,14 persen. Dari Asia, mayoritas dari indeks saham bergerak melemah. Kondisi tersebut ditunjukkan oleh indeks Nikkei225 yang ada di Jepang yang mana naik yang besarnya 0,13%, indeks Kospi di Korea Selatan yang turun sebesar 1,14%.